Planet Kaipang

October 26, 2014

Piko

October 25, 2014

Piko

Mengapa Saya Suka Psikologi dan Membenci Psikolog

Bukan bidang ilmu yang saya tekuni, hanya saja saya senang membaca-baca tentang psikologi. Penyakit-penyakit psikologi begitu menarik.

Namun saya selalu panik bila bertemu psikolog, karena mereka seolah-olah terlalu banyak tahu tentang diri saya. Rasa-rasanya mereka sulit dikelabui. Ini rasanya seperti pelanggaran privasi kan? #loh

by pdft at October 25, 2014 02:39 PM

Memigrasikan Database Eplaq ke GNU/Linux

Perhatian : Eplaq secara resmi dirilis untuk sistem operasi Windows. Meskipun secara teknis hal ini sama saja, penulis tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan yang mungkin terjadi.

 

Yak, ini kelanjutan dari catatan yang ini.

Jadi ceritanya banyak keluhan sejak server tersebut menggunakan virtualisasi. Boro-boro Windows Server, kami pakai Windows 7 bajakan yang notabene untuk desktop. Maksa banget ya? Masalah utamanya bagi saya adalah, Windows tidak nyaman untuk di-remote dari jarak jauh. Secara natif, tidak ada SSH, SCP, dan utilitas khas Unix lainnya. Sebenarnya masih banyak alasan-alasan lain mengapa saya ngebet ke GNU/Linux. Tapi mari langsung saja.

Eqvet lebih mudah dimigrasikan ke GNU/Linux karena password root databasenya sudah diketahui. Sementara Eplaq tidak demikian. User dan password databasenya diproteksi sehingga kita tidak mungkin mengekspor dan mengimpor database dengan cara normal.

Tapi kalau saya tetap ngotot pindahin ke GNU/Linux?

Pakai cara kasar. Bawa saja semua berkas SQL-nya mentah-mentah. Eplaq versi sekarang (per tanggal catatan ini ditulis) menggunakan MySQL versi 4.1. Lawas banget, tidak tersedia di distribusi yang umum sekarang. Jadi silakan siapkan distribusi apa saja, hapus semua paket yang berkaitan dengan X. Di sini saya menggunakan Ubuntu 12.04.

$ sudo apt-get remove xserver-xorg-core

 

Unduh MySQL 4.12 dan kompail. Saya memasangnya di /usr/local/mysql, jadi :

wget https://downloads.mariadb.com/archives/mysql-4.1/mysql-4.1.22.tar.gz
tar -xvf mysql*
cd mysql*
./configure --prefix=/usr/local/mysql/

 

Di saya, ada galat berikut saat configure :

./configure --prefix=/usr/local/mysql/

.

.

.

No curses/termcap library found

 

Pasang saja paket libncurses5-dev dari lumbung resmi. Berikutnya, atur-atur semuanya sampai MySQL-nya siap pakai (termasuk passowrd root dan segala macam). Setelah MySQL-nya oke, stop service-nya, kemudian salin berkas MySQL dari Eplaq yang sekarang (Windows). Mestinya terletak di C:\Program Files\MySQL\MySQL-versi\data\. Salin semua isi direktori data tersebut ke /usr/local/mysql/var/

Setelah disalin, perbaiki permissionnya :

$ sudo chown -R mysql:mysql /usr/local/mysql/var/

 

Jalankan lagi service MySQL-nya. Yey, sekarang database Eplaq sudah up di GNU/Linux (meskipun tidak bisa login).

Mungkin di saat ngatur-ngatur pertama kali MySQL-nya, anda sempat menyalin berkas my.cnf ke /etc/ atau menggunakan file konfigurasi bawaan sebelumnya (jika sebelumnya sempat memasang MySQL dari lumbung resmi, bukan versi 4.1). Pilih salah satunya, hapus yang lain, kemudian sunting. Ada baris yang penting untuk ditambahkan di sini :

Ini berkaitan dengan case sensitive di nama tabel. Eplaq dikembangkan di Windows, mungkin pengembangnya tidak terlalu peduli dengan perbedaan huruf besar kecil antara query di kode dengan nama tabel sebenarnya di database. Tapi saat dibawa ke Unix-like, hal ini tidak bisa ditoleransi.

lower_case_table_names=1

 

Meskipun kita tidak bisa masuk ke MySQL-nya (karena user passwordnya diproteksi dari pusat), untungnya databasenya sudah dikonfigurasi supaya bisa di-remote dari mana saja.

skip-name-resolve

 

Baris di atas penting untuk masalah performa, silakan baca-baca di sini : http://dev.mysql.com/doc/refman/5.0/en/host-cache.html

Pointing

Sekarang mari kita pindah ke Windows sebentar (client / PC Pelayanan). Pada aplikasi Eplaq, arahkan databasenya ke IP server tersebut. Voila! :D

Memperbarui Database dari Pusat

Kendala yang mungkin timbul setelah dimigrasikan ke GNU/Linux adalah update database dari pusat. Selama ini, updatenya dirilis dengan berkas executable (*.exe) yang akan menyalin beberapa berkas sql secara mentah (*.frm) ke tempat semestinya.

Jadi berikut prosedur yang mungkin dilakukan untuk menganggulangi kendala ini :

0. Update dirilis

1. Stop service MySQL di GNU/Linux, salin berkas mentah sql ke Windows virtual.

2. Jalankan update di Windows virtual

3. salin berkas mentah sql di Windows virtual ke GNU/Linux.

4. Jalankan service MySQL di GNU/Linux

5. Selesai. Repot ya?

Jadi saya sengaja tidak menghapus Windows virtualnya agar bisa digunakan sewaktu-waktu.

 

Update :

Eplaq versi sekarang sudah bisa mengupdate database langsung dari aplikasi, langsung memodifikasi database. Tidak lagi menggunakan berkas executable terpisah. Eh, tapi nggak tau deh nantinya bagaimana. :P

by pdft at October 25, 2014 12:55 PM

October 23, 2014

Blek

Menuju Sinjai

Menuju Sinjai

Saya masih ingat kapten kapal itu, yang kami tumpangi. Masih seusia saya, dan anak buah kapalnya adalah saudara-saudaranya semua. Beberapa masih berusia belasan tahun. Bagi sukunya, kapal adalah usaha keluarga. Maka dialah yang melanjutkan, sebagai anak pertama.

Siang menjelang sore, setelah seharian sama sekali tidak terlihat daratan, hanya air yang batasannya langit di horizon, siluet gunung Bawakareang mulai menampakkan dirinya, dua jengkal dari horizon. Warnanya masih samar-samar biru pucat, berlatar langit yang sedikit lebih muda birunya. Pertanda, masih cukup lama kami bisa menginjak tanah hitam.

Piko yang berbincang-bincang dengan kapten kapal nyeletuk, “Pak, di sini nggak ada bajak laut ya?”

Mendengar itu, kapten kapal terdiam sesaat kemudian tertawa. Saya ikut tertawa kemudian berujar, “Sebenarnya kapal ini kategorinya kapal bajak laut juga. Kita ini kan penumpang ilegal!” Kembali kapten kapal tertawa.

Kemudian dia diam. Menatap siluet gunung Bawakareang di depannya. Di tengah suara angin yang menderu keras dan percikan ombak yang pecah di haluan, dia berkata dengan nada sendu.

“Tapi bajak laut sebenarnya itu aparat. Sering, kami dicegat langsung di tengah laut. Walau surat-surat lengkap, ada saja kesalahan yang ditemukan buat jadi uang…”


by Black_Claw at October 23, 2014 07:21 AM

October 20, 2014

Piko

Jangan Dipuji, Dibenci Saja

Banyak teman-teman saya yang suka memuji-muji secara berlebihan dan tidak mengambil hikmah dari mengapa dia akhirnya memuji demikian.

Salah tingkah saat dipuji itu sungguh tidak enak dan saya sama sekali tidak menyukainya, terlebih ditambah kesadaran bahwa saya belum ada apa-apanya dibanding beberapa orang yang saya kenal.

Jika saya mengenal dekat orang yang dalam hal-hal tertentu lebih cakap dari pada saya, mencapai lebih banyak prestasi dari pada saya, lebih maju dari saya, maka saya akan berusaha membencinya. Saya benci dikalahkan. Saya sukar ngalah. Maka saya jadikan dia rival, dalam artian yang positif. Paling banter saya hanya bilang, “Wogh, keren!”, tapi kemudian “Sialan!”.

Jika dia membahas sesuatu yang tidak saya mengerti dan membuat saya merasa bodoh, saya juga akan membencinya dan berusaha mencapai tingkat pengetahuan yang sama sehingga akhirnya saya mengerti apa yang dibahas itu.

Pada akhirnya, saya membenci terlalu banyak orang, dan hidup saya seperti jalan setapak yang panjang sekali dimana saya terus-menerus berlari seolah dikejar anjing.

Woosaaaaah!

 

by pdft at October 20, 2014 02:38 PM

Smaug at its best achievement of overheating

118 derajat celcius, woohoooooooooo!

Saya mengakui bahwa rata-rata produk komputer dari HP (bukan Compaq ya) cukup bandel. Tapi mengenai rancangan, itu hal yang berbeda. HP Pavilion dm3 milik saya adalah salah satu produk cacat dari HP yang diakui secara luas. Secara tampilan, komputer ini menarik sekali dan berasa pegang Macbook. Serba logam. Tapi tahu nggak sih? Fungsi case logam ini bukan supaya elegan, tapi inilah heatsink dari prosesor laptop ini.

Yoi. Saya nggak salah tulis. Heatsink yang nempel ke procesor itu diangin-angini sama kipas kecil yang tidak punya sumber udara. Jadi sama sekali tidak berguna. Di bawah case logam ini, ada banyak ruang udara kosong yang bagus sekali tempat bersemayam udara panas, yang kemudian menyalurkan panasnya ke case, atas dan bawah. Rasakanlah mengetik di atas bara 50 derajat celcius. Dipangku sama panasnya.

Kalau benar itu isu tentang memangku laptop menyebabkan mandul karena radiasi panasnya, berarti saya sudah tidak bisa diharapkan lagi. #eh

Jadi kemarin saya terpaksa melubangi bagian bawah case untuk ventilasi tambahan, membuat cacat produk cacat ini. Dan hasilnya hari ini adalah..

Yak, sama saja.

Halo, ada yang jual Macbook bekas?

by pdft at October 20, 2014 02:21 PM

October 12, 2014

Piko

Silicon Valley Season 1 : Github & Reverse Engineering

Kalau ada di Github, ngapain repot-repot reverse-engineering? Meski tidak menutup kemungkinan menyimpan binary atau private repo di Github, tetep aja kedengaran aneh. :P

by pdft at October 12, 2014 09:04 AM

October 10, 2014

Ukang

Balada Pembenihan Ikan lele

 Dompu merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dimana kondisi serta suhu tidak jauh dari 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota di NTB. Panas... ya Panas, apalagi semakin ke timur.





Indukan lele yang siap dipijah.











 Kolam Pijahan Lele 1 Jantan dan 1 Betina.








by Furkan Samadha (noreply@blogger.com) at October 10, 2014 07:10 PM