Planet Kaipang

September 26, 2014

Piko

FOSS goes to School, anyone?

Ini tulisan lawas (April 24, 2013) yang diminta saudara Ade Malsasa Akbar untuk di-repost di sini. Pertama kali diposting di group Facebook KPLI NTB. Sebentar lagi apa yang ditulis di sini akan direalisasikan. Semoga lancar. Siapa pun silakan menggunakan konsep ini untuk memperluas gerakan, baik itu KPLI maupun organisasi yang memiliki visi yang sama tentang perangkat lunak sumber terbuka. Selamat membaca!

Saya perhatikan, sudah lama kita tidak melakukan sesuatu ke masyarakat, sejak acara terakhir yang tercatat di blog Kaipang. Kita kan keren, kok kurang aksi. Setelah saya pikir-pikir, saya rasa kita perlu merubah strategi.

Selama ini, acara-acara yang kita bikin, konsepnya selalu sama, kaku, dan tidak tepat guna :
1. Pengenalan apa itu Linux
2. Mempromosikan kelebihan Linux
3. Instalasi bareng.
4. Pemanduan penggunaan beberapa aplikasi umum.
5. Tertib dan selesai, kecuali muncul beberapa masalah-masalah umum pasca instalasi, atau masalah khusus nan menjengkelkan, seperti salah format dan minta tolong data dikembalikan.

Dengan susunan seperti itu, kita pukul rata, semua audien mesti memasang GNU/Linux, padahal mereka baru mengenal beberapa jam saja, dan belum paham benar dan menjiwai, apa itu lisensi, sudut pandang mengenai hak cipta, dan hal-hal mendasar seperti itu. Padahal, pemahaman dasar seperti inilah yang sebenarnya bisa menjadi pegangan kuat. Intinya kita memaksa. Kita bilang sekarang sesi instalasi, audien tidak punya pilihan lain. Tahu sendiri lah…
Kekurangan konsep acara ini, semua peserta mesti punya/bawa laptop. Lupakan PC, siapa juga yang mau repot-repot untuk itu.

Hasilnya (perkiraan saya, pengamatan saya) besok-besok para audien akhirnya hanya berputar-putar di lingkaran : coba-coba, mulai suka, menemui masalah, balik ke windows/belum bisa meninggalkan windows. Terutama, saya sakit hati ketika eks peserta akhirnya bertanya, “Bagaimana cara kita hapus Linux ini?”.
Bahkan di antara kita sendiri, hanya sedikit yang konsisten, setahu saya (mohon ralat kalau salah), hanya pak Ajoeh (juga dengan Windows orinya), Mamik Ishak, dan Rifki temannya si Cepul.

Nah, strategi alternatif yang pertama kali melintas di pikiran saya adalah, menyasar ke sekolah (SMA bukan STM/SMK), tapi dengan konsep acara yang berbeda. Kita dari dulu ngomongin ini tapi gag jadi-jadi. Kemarin pas kopdar sama bang Chi Mot juga sempat dibahas, tapi saya gag terlalu dengar, sibuk sama N900. Intinya, dari dulu kita cuma ngomong doang, no eksien.

Konsep acara berbeda yang saya maksud adalah, “meng-kudeta” jam pelajaran bapak/ibu guru TIK. Saya ingat, di kurikulum SMA, ada 1 bab mengenai ‘Menghargai Hak Kekayaan Intelektual’. Kita bisa ambil bab itu, kita ambil posisi sebagai ‘dosen tamu’. Kita membantu guru TIK di sekolah terkait, dengan syarat, kita bisa menyampaikan materi dengan cara yang lebih baik dan menyenangkan. Kita cuma perlu koordinasi dengan pihak sekolah/guru TIK (saya punya 1 untuk dikontak sebagai percobaan pertama,SMAN 2 Mataram) : mengecek apakah kurikulum mengenai tema itu masih ada, memastikan waktu/tanggal jam pelajaraannya, bersurat resmi ke kepsek (baik setelah kongkalikong dengan guru TIK maupun belum), dan akhirnya kita dapatkan kesempatan bersama anak-anak muda itu.

Hanya 2 pelajaran, 1 jam pelajaran dihitung 45 menit. 90 menit penyampaian materi. 80 % awal waktu hanya untuk penyampaian mengenai hak kekayaan intelektual dan liseni. Gak perlu memojokkan Windows, hanya masalah lisensinya saja. Windows itu keren kok. 20 % waktu terakhir baru mengenalkan alternatif + acara kuis dengan doorprize.
Sekali lagi, fokus/tujuan utama geriliya adalah membuat audien paham bagaimana menghargai karya orang lain (HAKI, kita bisa beri perumpamaan mereka bikin musik keren, terus dibajak), bukan memperkenalkan Linux.

Kita kasih GNU/Linux di bagian akhir, GNU/Linux adalah solusi alternatif, dan memberi tahu mereka mengenai organisasi kita yang keren ini, bagaimana mengontak dan bergabung dengan kita. Dengan cara ini, kita tidak memaksa audien, tapi memberi mereka pilihan. Itu hak mereka.

Urusan mereka menggunakan GNU/Linux atau tidak, itu urusan belakang. Kalau memang ada yang tertarik, kita pasti dikontak. Pada akhirnya kita menyaring orang-orang yang (setidaknya) punya ketertarikan khusus, entah karena memang ingin menghargai lisensi atau memang berjiwa geek, bukan sekedar coba-coba easy come easy go.
Kita cuma perlu 3 hal :

1. Koordinasi dengan pihak sekolah (saya bisa usahakan ambil bagian ini)
2. Pembicara yang baik dan menyenangkan, dan terutama bisa mengatur waktu 90 menit. (Yang Mulia Ketupang perlu diblacklist)
3. Donasi doorprize untuk sesi kuis. (Monggo…)

Doorprize misalnya (usulan Cepul) : kaos tentang tema tulisannya mengarah ke perangkat lunak bebas/lisensi (kemarin cek di baliwae stok habis, mungkin kita bisa pesan atau bikin sendiri di berhandang. (Membagikan livecd GNU/Linux sebagai doorprize kelihatannya terlalu berbahaya, bisa jadi kalau tidak dipandu langsung, mereka bisa membabat habis data mereka sendiri hanya karena salah klik)

Maaf posting panjang-panjang. Bagaimana?

by pdft at September 26, 2014 12:59 PM

September 18, 2014

Piko

Antara Ponsel Pintar dan Seucap Aksi

Belakangan ini, saya mulai merasakan sebuah pola tertentu yang diterapkan kebanyakan orang Indonesia dalam menanggapi perilaku menyimpang yang mereka temui di tempat publik.

Contoh sederhananya : di dalam sebuah kereta api yang sedang melaju, seorang pria muda duduk di kursi khusus penyandang cacat, sementara di depannya berdiri penyandang cacat yang menggunakan alat bantu tongkat. Pria tersebut seakan tidak peduli dan pura-pura tidak tahu.

Atau

Di kereta api yang sama, seorang wanita muda sehat duduk di kursi khusus ibu hamil, sementara persis di depannya ada seorang ibu hamil yang setengah berharap wanita muda itu mau memberikan kursi penumpang khusus itu untuknya.

Alih-alih menegur langsung pelakunya, ada orang-orang yang lebih suka mengambil gambar dari kejadian tersebut dan menggunggahnya ke sosial media, membiarkan gambar tersebut tersebar dalam jaringan dan menunggu tanggapan/komentar dari seantero warga internet. Yeah, kebanyakan kita gemar mengomentari konten-konten seperti ini. Jika beruntung, nama pelaku diketahui dan dicatut, dan akhirnya berujung aksi bully massal. Tentu saja ini punya sisi positif yaitu menimbulkan efek jera terhadap pelaku.

Tapi aksi mengunggah gambar kejadian tersebut dan membully pelaku tidak membuat penyandang cacat atau ibu hamil tadi memperoleh haknya pada saat itu. Tidak pedulinya kita (dengan tidak mengingatkan/menegur langsung) adalah sama dengan tidak pedulinya pelaku dengan aturan yang ada. Menegur langsung adalah cara yang tepat.

Sayangnya, bukanlah budaya indonesia untuk mengambil sikap ini. Orang indonesia cinta damai, tidak suka cari ribut jika memang bisa dihindari. Saya sendiri mengakui kebiasaan ini dalam diri saya.

Memang sulit buat memulainya, dihinggapi rasa takut akan dampak yang mungkin terjadi (misal berdebat) atau mungkin yang lebih buruk, pelaku bersikap preman. Tapi coba pikir, salah satu kemungkinan yang terjadi adalah, penyandang cacat atau ibu hamil tersebut akhirnya memperoleh haknya.

Pada praktiknya, baru empat kali saya menegur orang lain di tempat publik mengenai perilaku menyimpang, salah satunya berujung debat (perihal larangan merokok di tempat umum). Tidak mudah memang.

Ada yang bilang, “ah songong banget negur-negur orang, diri sendiri belum tentu benar dan suci”. Tetapi sebenarnya, kebiasaan saling mengingatkan akan memantapkan prinsip-prinsip baik yang kita pegang bersama. Lagi pula, bisa jadi pelaku memang kurang peduli dengan orang dengan disabilitas, tetapi tidak/belum tahu bahwa kursi yang didudukinya itu adalah kursi khusus. Yah, siapa tahu?

Mulai sekarang, mari kita ambil sikap. Jika hal-hal seperti ini terjadi di depan anda, kantongi ponsel/perangkat bergerak anda dan lakukan aksi. :)

by pdft at September 18, 2014 05:07 PM

September 16, 2014

Piko