Planet Kaipang

October 23, 2014

Blek

Menuju Sinjai

Menuju Sinjai

Saya masih ingat kapten kapal itu, yang kami tumpangi. Masih seusia saya, dan anak buah kapalnya adalah saudara-saudaranya semua. Beberapa masih berusia belasan tahun. Bagi sukunya, kapal adalah usaha keluarga. Maka dialah yang melanjutkan, sebagai anak pertama.

Siang menjelang sore, setelah seharian sama sekali tidak terlihat daratan, hanya air yang batasannya langit di horizon, siluet gunung Bawakareang mulai menampakkan dirinya, dua jengkal dari horizon. Warnanya masih samar-samar biru pucat, berlatar langit yang sedikit lebih muda birunya. Pertanda, masih cukup lama kami bisa menginjak tanah hitam.

Piko yang berbincang-bincang dengan kapten kapal nyeletuk, “Pak, di sini nggak ada bajak laut ya?”

Mendengar itu, kapten kapal terdiam sesaat kemudian tertawa. Saya ikut tertawa kemudian berujar, “Sebenarnya kapal ini kategorinya kapal bajak laut juga. Kita ini kan penumpang ilegal!” Kembali kapten kapal tertawa.

Kemudian dia diam. Menatap siluet gunung Bawakareang di depannya. Di tengah suara angin yang menderu keras dan percikan ombak yang pecah di haluan, dia berkata dengan nada sendu.

“Tapi bajak laut sebenarnya itu aparat. Sering, kami dicegat langsung di tengah laut. Walau surat-surat lengkap, ada saja kesalahan yang ditemukan buat jadi uang…”


by Black_Claw at October 23, 2014 07:21 AM

October 20, 2014

Piko

Jangan Dipuji, Dibenci Saja

Banyak teman-teman saya yang suka memuji-muji secara berlebihan dan tidak mengambil hikmah dari mengapa dia akhirnya memuji demikian.

Salah tingkah saat dipuji itu sungguh tidak enak dan saya sama sekali tidak menyukainya, terlebih ditambah kesadaran bahwa saya belum ada apa-apanya dibanding beberapa orang yang saya kenal.

Jika saya mengenal dekat orang yang dalam hal-hal tertentu lebih cakap dari pada saya, mencapai lebih banyak prestasi dari pada saya, lebih maju dari saya, maka saya akan berusaha membencinya. Saya benci dikalahkan. Saya sukar ngalah. Maka saya jadikan dia rival, dalam artian yang positif. Paling banter saya hanya bilang, “Wogh, keren!”, tapi kemudian “Sialan!”.

Jika dia membahas sesuatu yang tidak saya mengerti dan membuat saya merasa bodoh, saya juga akan membencinya dan berusaha mencapai tingkat pengetahuan yang sama sehingga akhirnya saya mengerti apa yang dibahas itu.

Pada akhirnya, saya membenci terlalu banyak orang, dan hidup saya seperti jalan setapak yang panjang sekali dimana saya terus-menerus berlari seolah dikejar anjing.

Woosaaaaah!

 

by pdft at October 20, 2014 02:38 PM

Smaug at its best achievement of overheating

118 derajat celcius, woohoooooooooo!

Saya mengakui bahwa rata-rata produk komputer dari HP (bukan Compaq ya) cukup bandel. Tapi mengenai rancangan, itu hal yang berbeda. HP Pavilion dm3 milik saya adalah salah satu produk cacat dari HP yang diakui secara luas. Secara tampilan, komputer ini menarik sekali dan berasa pegang Macbook. Serba logam. Tapi tahu nggak sih? Fungsi case logam ini bukan supaya elegan, tapi inilah heatsink dari prosesor laptop ini.

Yoi. Saya nggak salah tulis. Heatsink yang nempel ke procesor itu diangin-angini sama kipas kecil yang tidak punya sumber udara. Jadi sama sekali tidak berguna. Di bawah case logam ini, ada banyak ruang udara kosong yang bagus sekali tempat bersemayam udara panas, yang kemudian menyalurkan panasnya ke case, atas dan bawah. Rasakanlah mengetik di atas bara 50 derajat celcius. Dipangku sama panasnya.

Kalau benar itu isu tentang memangku laptop menyebabkan mandul karena radiasi panasnya, berarti saya sudah tidak bisa diharapkan lagi. #eh

Jadi kemarin saya terpaksa melubangi bagian bawah case untuk ventilasi tambahan, membuat cacat produk cacat ini. Dan hasilnya hari ini adalah..

Yak, sama saja.

Halo, ada yang jual Macbook bekas?

by pdft at October 20, 2014 02:21 PM

October 12, 2014

Piko

Silicon Valley Season 1 : Github & Reverse Engineering

Kalau ada di Github, ngapain repot-repot reverse-engineering? Meski tidak menutup kemungkinan menyimpan binary atau private repo di Github, tetep aja kedengaran aneh. :P

by pdft at October 12, 2014 09:04 AM

October 10, 2014

Ukang

Balada Pembenihan Ikan lele

 Dompu merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dimana kondisi serta suhu tidak jauh dari 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota di NTB. Panas... ya Panas, apalagi semakin ke timur.





Indukan lele yang siap dipijah.











 Kolam Pijahan Lele 1 Jantan dan 1 Betina.








by Furkan Samadha (noreply@blogger.com) at October 10, 2014 07:10 PM

September 26, 2014

Piko

FOSS goes to School, anyone?

Ini tulisan lawas (April 24, 2013) yang diminta saudara Ade Malsasa Akbar untuk di-repost di sini. Pertama kali diposting di group Facebook KPLI NTB. Sebentar lagi apa yang ditulis di sini akan direalisasikan. Semoga lancar. Siapa pun silakan menggunakan konsep ini untuk memperluas gerakan, baik itu KPLI maupun organisasi yang memiliki visi yang sama tentang perangkat lunak sumber terbuka. Selamat membaca!

Saya perhatikan, sudah lama kita tidak melakukan sesuatu ke masyarakat, sejak acara terakhir yang tercatat di blog Kaipang. Kita kan keren, kok kurang aksi. Setelah saya pikir-pikir, saya rasa kita perlu merubah strategi.

Selama ini, acara-acara yang kita bikin, konsepnya selalu sama, kaku, dan tidak tepat guna :
1. Pengenalan apa itu Linux
2. Mempromosikan kelebihan Linux
3. Instalasi bareng.
4. Pemanduan penggunaan beberapa aplikasi umum.
5. Tertib dan selesai, kecuali muncul beberapa masalah-masalah umum pasca instalasi, atau masalah khusus nan menjengkelkan, seperti salah format dan minta tolong data dikembalikan.

Dengan susunan seperti itu, kita pukul rata, semua audien mesti memasang GNU/Linux, padahal mereka baru mengenal beberapa jam saja, dan belum paham benar dan menjiwai, apa itu lisensi, sudut pandang mengenai hak cipta, dan hal-hal mendasar seperti itu. Padahal, pemahaman dasar seperti inilah yang sebenarnya bisa menjadi pegangan kuat. Intinya kita memaksa. Kita bilang sekarang sesi instalasi, audien tidak punya pilihan lain. Tahu sendiri lah…
Kekurangan konsep acara ini, semua peserta mesti punya/bawa laptop. Lupakan PC, siapa juga yang mau repot-repot untuk itu.

Hasilnya (perkiraan saya, pengamatan saya) besok-besok para audien akhirnya hanya berputar-putar di lingkaran : coba-coba, mulai suka, menemui masalah, balik ke windows/belum bisa meninggalkan windows. Terutama, saya sakit hati ketika eks peserta akhirnya bertanya, “Bagaimana cara kita hapus Linux ini?”.
Bahkan di antara kita sendiri, hanya sedikit yang konsisten, setahu saya (mohon ralat kalau salah), hanya pak Ajoeh (juga dengan Windows orinya), Mamik Ishak, dan Rifki temannya si Cepul.

Nah, strategi alternatif yang pertama kali melintas di pikiran saya adalah, menyasar ke sekolah (SMA bukan STM/SMK), tapi dengan konsep acara yang berbeda. Kita dari dulu ngomongin ini tapi gag jadi-jadi. Kemarin pas kopdar sama bang Chi Mot juga sempat dibahas, tapi saya gag terlalu dengar, sibuk sama N900. Intinya, dari dulu kita cuma ngomong doang, no eksien.

Konsep acara berbeda yang saya maksud adalah, “meng-kudeta” jam pelajaran bapak/ibu guru TIK. Saya ingat, di kurikulum SMA, ada 1 bab mengenai ‘Menghargai Hak Kekayaan Intelektual’. Kita bisa ambil bab itu, kita ambil posisi sebagai ‘dosen tamu’. Kita membantu guru TIK di sekolah terkait, dengan syarat, kita bisa menyampaikan materi dengan cara yang lebih baik dan menyenangkan. Kita cuma perlu koordinasi dengan pihak sekolah/guru TIK (saya punya 1 untuk dikontak sebagai percobaan pertama,SMAN 2 Mataram) : mengecek apakah kurikulum mengenai tema itu masih ada, memastikan waktu/tanggal jam pelajaraannya, bersurat resmi ke kepsek (baik setelah kongkalikong dengan guru TIK maupun belum), dan akhirnya kita dapatkan kesempatan bersama anak-anak muda itu.

Hanya 2 pelajaran, 1 jam pelajaran dihitung 45 menit. 90 menit penyampaian materi. 80 % awal waktu hanya untuk penyampaian mengenai hak kekayaan intelektual dan liseni. Gak perlu memojokkan Windows, hanya masalah lisensinya saja. Windows itu keren kok. 20 % waktu terakhir baru mengenalkan alternatif + acara kuis dengan doorprize.
Sekali lagi, fokus/tujuan utama geriliya adalah membuat audien paham bagaimana menghargai karya orang lain (HAKI, kita bisa beri perumpamaan mereka bikin musik keren, terus dibajak), bukan memperkenalkan Linux.

Kita kasih GNU/Linux di bagian akhir, GNU/Linux adalah solusi alternatif, dan memberi tahu mereka mengenai organisasi kita yang keren ini, bagaimana mengontak dan bergabung dengan kita. Dengan cara ini, kita tidak memaksa audien, tapi memberi mereka pilihan. Itu hak mereka.

Urusan mereka menggunakan GNU/Linux atau tidak, itu urusan belakang. Kalau memang ada yang tertarik, kita pasti dikontak. Pada akhirnya kita menyaring orang-orang yang (setidaknya) punya ketertarikan khusus, entah karena memang ingin menghargai lisensi atau memang berjiwa geek, bukan sekedar coba-coba easy come easy go.
Kita cuma perlu 3 hal :

1. Koordinasi dengan pihak sekolah (saya bisa usahakan ambil bagian ini)
2. Pembicara yang baik dan menyenangkan, dan terutama bisa mengatur waktu 90 menit. (Yang Mulia Ketupang perlu diblacklist)
3. Donasi doorprize untuk sesi kuis. (Monggo…)

Doorprize misalnya (usulan Cepul) : kaos tentang tema tulisannya mengarah ke perangkat lunak bebas/lisensi (kemarin cek di baliwae stok habis, mungkin kita bisa pesan atau bikin sendiri di berhandang. (Membagikan livecd GNU/Linux sebagai doorprize kelihatannya terlalu berbahaya, bisa jadi kalau tidak dipandu langsung, mereka bisa membabat habis data mereka sendiri hanya karena salah klik)

Maaf posting panjang-panjang. Bagaimana?

by pdft at September 26, 2014 12:59 PM